Posted by: sukasukanulis on: Januari 25, 2008
Aku terdiam menatap adikku sakit tak berdaya, ya Tuhan apa salah kami..? mohon maaf dari Mu, ya Tuhan…jika kami memang salah. Aku dalam kemelut, kegundahan hati, aku tidak menerima persoalan yang pelik ini harus menyelimuti kami.
Lihatlah diriku…aku melihat diriku pada cermin, cermin tak pernah bohong, aku bertanya pada diriku…dan lebih dalam pada bayiku yang masih terus tumbuh di rahimku yang penuh kasih sayang ini. ” Hallo sayang…bayi-ku…jujurlah padaku? apa aku salah jika membenci adikku sendiri padahal dia dalam keadaan sakit keras, stroke yang tiba-tiba menyerangnya pada usia muda, kau pasti tak percaya dengan ucapanku…mengapa tiba-tiba aku membenci diriku dan adikku…
Tidak…tidak aku tidak boleh seperti ini…menangis aku dalam hati…menangis sangat dalam, aku takut jika adikku terjatuh sampai dua kali. Aku salahkan diriku, aku salahkan adikku, dan aku salahkan orang tuaku. Aku tidak boleh begini terus, kemana kasih sayangku, kemana rasa keibuanku yang harus mendidik anakku sejak dalam kandungan. Tuhan, beri aku terang didalam hati…..tolong….
Tok..tok..tok…pintu kamarku, ada yang mengetuk, siapa..? entahlah aku tak tahu, aku lelah, menangis sendiri di dalam kamar ini. Tok..tok..sekali lagi dan suara itu mulai terdengar, ” Sayang…bisa kita bicara…?” papa…dia papaku…aku langsung menghapus air mataku. Langsung kubuka pintu kamar, dan kulihat wajah lelah dan penuh kesedihan dari sorot mata papa terlihat, namun ia tetap tegar, tetap sabar, tetap membimbing ku…” Ada apa? kenapa kamu akhir-akhir ini?”. Aku menangis, bukan menjawab, aku tak kuasa, aku marah!!! ” kamu pikir diri kamu udah paling benar?” …..aku diam….
” Maaf papa….kita bicara empat mata saja…” klik pintu kututup.
” Apa papa tidak lihat adikku yang sakit itu sudah lama berkelana dengan cinta yang berbeda?”
” Papa tahu…sejak dulu….sejak awal…papa sudah usaha untuk pisahkan kisah cinta mereka, tapi tidak bisa. Apakah dengan begitu kau menyalahkan orang disekitarmu? menyalahkan dirimu? sayangi diri kamu dan bayi dalam perutmu… Jangan kau selimuti dirimu dengan kebencian.
“Hidayah…hidayah dari yang kuasa belum kita temukan pada adikmu. Berdoalah….minta hidayah untuknya. Perbedaan itu bukan salah siapa-siapa. Apa kamu pernah merencanakan akan dilahirkan dimana? dengan agama apa? orang tuanya siapa? tidak bisa kan….semua Tuhan yang atur, lalu apa kamu akan salahkan mereka yang terlahir berbeda dengan kita? tidak bisa…papa…..bersyukur terlahir sebagai muslim, tapi papa juga tidak bisa membeda-bedakan…”
” Sayang…papa sudah pernah katakan…itu keputusanmu…tapi ingatlah konsekuensinya….bisa terjadi perang saudara, papa sama sedihnya seperti dirimu, jika ingin disalahkan papa-lah yang paling bersalah, tidak usah kau pikirkan itu…karena ini semua adalah tanggungan papa…jika ada yang harus dihukum…papalah orang yang harus dihukum….” Aku terkesima.
Tidak! aku tidak mau itu…. aku tidak boleh membiarkan papa menderita…dan aku telah membuatnya lebih menderita….Tuhan maafkan aku…maafkan aku papa…
Perlahan aku mulai menerima perbedaan dan segala konsekuensinya…..sampai saat ini aku tidak terima, tapi aku berusaha lebih baik….membuang jauh-jauh rasa benci itu…..
Bercakaplah aku pada adikku, berkeluh kesah segala keresahan, menangis dalam kesedihan dan kesenangan…maafkan aku adikku…aku terlalu menyayangimu…aku tak mau kehilanganmu….
Maafkan ibu sayang…ibu telah membiarkan dirimu mengetahui kebencian sekaligus rasa cinta yang amat sangat……
Posted by: sukasukanulis on: Januari 25, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!